Dayang Ayu - Dideng Dang Ayu

Legenda Daerah Sumatra Barat

Lutung Kasarung dan Purbasari

Legenda Daerah Jawa Barat

Sangkuriang

Legenda Daerah Jawa Barat

Bawang Merah dan Bawang Putih

Legenda Rakyat Jawa Barat

Tarian Klasik Keraton Jawa

Legenda Daerah Jawa Tengah

Minggu, 28 Agustus 2016

Memurnikan Niat Sedekah dengan Ser Maleng

Wajah Ki Mali, seorang guru mengaji di Dusun Tengger, Desa Larangan Tokol, Tlanakan, Pamekasan, Jawa Timur, tiba-tiba ceria. Saat akan melaksanakan salat malam di kobhung (bangunan yang biasa dijadikan tempat istirahat dan salat) depan rumahnya, lelaki yang tinggal sendirian sepeninggal istrinya dan ditinggal anak-anaknya merantau itu mendapati sekarung beras jagung, tanpa diketahui siapa yang menaruh di depan pintu rumahnya.

Peristiwa itu tidak hanya terjadi sekali. Sebelumnya, kejadian beberapa kali hal yang sama juga terjadi. Terkadang berupa beras jagung (jagung kering yang sudah digiling), ubi jalar, kacang tanah, atau lainnya. 


Di wilayah perdesaan di Madura, kejadian seperti itu merupakan hal yang biasa terjadi dan disebut sadeka ngitek (sedekah sembunyi- sembunyi) atau juga disebut ser maleng (sedekah malam hari). Biasanya terjadi pada saat musim panen tanaman yang menjadi makanan pokok di wilayah tersebut. Ser maleng tidak hanya kepada tokoh masyarakat yang ekonominya pas-pasan dan ke fakir miskin, tapi juga ke sekolah, madrasah, atau tempat ibadah.

Sembunyi-sembunyi

Biasanya, sedekah itu dilakukan pada malam hari atau di saat penghuni rumah sedang tidak di rumah. Untuk tempat ibadah, sering kali diletakkan di bawah tikar atau alas ibadah. Budayawan Madura, Ibnu Hajar, mengatakan istilah sedekah ngitek karena sedekah tersebut dilakukan secara sembunyi- sembunyi tanpa sepengetahuan orang yang dituju, sedangkan istilah ser maleng diperkirakan berasal dari istilah shadaqatu assirri dalam bahasa Arab yang diadopsi ke bahasa Madura menjadi kata ser. 


Istilah maleng yang berarti pencuri, kata salah seorang penyair Madura itu, karena kebanyakan sedekah itu dilakukan pada malam hari seperti kebiasaan pencuri yang biasa melakukan aksi pencurian di malam hari, atau bersedekah dengan mencuri waktu di saat orang yang dituju tidak menyadari.

"Yang pasti, ser maleng bukan seperti kisah pencuri budiman dalam beberapa novel atau tayangan fi lm. Juga tidak seperti kisah Bajingan Lokajaya yang mencuri untuk bersedekah kepada fakir miskin. Tapi memang sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi untuk menjaga keikhlasan hati," kata Ibnu Hajar. Memang tidak diketahui asal mula tradisi tersebut. Namun, kebiasaan yang kini sudah mulai pudar dan hanya bertahan di beberapa kawasan pelosok pulau garam itu diperkirakan berawal saat masyarakat di pulau itu mulai memeluk Islam.

Kebersamaan

Awalnya karena takut kepindahan mereka dari agama sebelumnya, Buddha, ke Islam diketahui penguasa yang masih belum muslim. Namun belakangan, setelah kerajaan di Madura menjadi kesultanan Islam, kebiasaan ser maleng atau bersedekah diam-diam itu menjadi kebiasaan. Pemerhati kebudayaan Madura, Syukron Rumadlon, mengatakan ajaran Islam yang mengajarkan pemeluknya untuk senantiasa saling bantu sejalan dengan tingginya rasa kebersamaan masyarakat Madura pada masa lalu.

"Ikatan kekerabatan dan kesukuan di Madura cukup kuat dan ditopang ajaran Islam yang sangat menekankan kebersamaan," kata dia. Ia mengakui saat ini ada kecenderungan sikap kebalikan yang ditunjukkan sebagian kelompok masyarakat, dengan memu blikasikan kegiatan sedekah dan pembagian zakat, bahkan tidak jarang menggunakan sponsor. 

Namun, kebiasaan ser maleng masih tetap 'terjadi' terutama di wilayah perdesaan. Bahkan, jika sebelumnya bantuan untuk lembaga pendidikan dan tempat ibadah biasa diletakkan di bawah alas duduk, saat ini, kata dia, justru sering didapatkan kiriman bantuan melalui transfer bank dengan merahasiakan identitas pengirim. Salah satu dosen di Universitas Madura itu meyakini ser maleng tidak akan hilang meskipun saat ini sarana informasi sudah sangat mudah diakses dan makin banyak kelompok yang melakukan pencitraan melalui sedekah yang diiklankan.

"Sesuatu yang berangkat dari akar budaya tidak akan mudah dihapuskan. Ser maleng merupakan tindakan yang berangkat dari akar budaya. Mungkin hanya caranya saja yang berubah," kata Syukron. (M-2)

Penulis: Mohammad Ghazi
www.mediaindonesia.com

Minggu, 21 Agustus 2016

Maen Pukulan ala Betawi

Busana itu punya ciri leher yang bulat. Ia juga berlengan panjang. Pada badannya dibuat longgar. Celananya pun biasanya dibuat menggantung agar terlihat lebih simpel. Itulah setelan baju pangsi yang identik dengan orang Betawi.

Baju pangsi dahulu biasa dipakai para jagoan atau orang pandai berkelahi. Dari sisi warna, biasanya orang yang jago silat serta pemuka agama memakai warna cerah seperti krem atau putih, sedangkan warna hitam biasanya dipakai para jagoan silat.

Bukan rahasia lagi, tanah Betawi adalah surga silat. Hampir separuh dari sekitar 600-800 aliran atau perguruan yang ada di Indonesia berasal dari Jakarta. Ada sekitar 317 aliran maen pukulan di tanah Betawi, yang merupakan pengembangan dari sekitar 100-200 pecahan aliran dari empat aliran inti. Jumlah 317 aliran tersebut merupakan data yang dimiliki PPS Putra Betawi.

Betawi kaya akan silat atau dalam dialek lokal disebut maen pukulan. Ada ungkapan, “Tiap utan ade macannye, tiap kampung ade maenannye (setiap hutan ada macannya, setiap kampung ada mainannya).” Hampir di setiap kampung dapat ditemukan maen pukulan, yang tentunya berbeda satu sama lain.

Lalu dari manakah asal silat di tanah Betawi? Pangsi juga ternyata bisa menjadi penanda asal mula silat Betawi.

Berdasarkan akar maen pukulan, GJ Nawi dalam buku Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi me­ngelompokkan aliran maen pukulan Betawi menjadi dua kategori. Pertama yaitu akar aliran luar (aliran dari luar Nusantara) dan kedua yaitu akar aliran dalam (aliran Nusantara). Aliran luar yang banyak memengaruhi maen pukulan Betawi ialah ilmu bela diri kaum imigran Tionghoa. Hingga akhirnya, itu menjadi aliran maen pukulan Betawi yang berdiri sendiri, terlepas apakah aliran ilmu bela diri dibawa para imigran itu.

Pangsi ditenggarai berawal dari cara berpakaian orang Tionghoa, baju tui khim dan celana phang si, serta penggunaan kain ciu kin yang kerap dikenakan di leher para jago kuntao peranakan Tionghoa. Pada masyarakat Tionghoa peranakan di Kampung Cina Benteng Tangerang, tradisi mengalungkan ciu kin atau cukin di leher sebagai penanda yang bersangkutan memiliki kemampuan maen pukulan atau terkait dengan dunia maen pukulan, seperti para jago dan centeng.

“Tradisi berpakaian jago kuntao di Betawi bermetamorfosis menjadi baju tikim, celana pangsi, dan sarung yang dikalungkan di pundak. Seiring dengan perjalanan waktu, hal itu berkembang dan memiliki makna filosofi yang disesuaikan dengan adat istiadat orang Betawi umumnya dan kalangan maen pukulan khususnya sebagai dua simbol identitas Betawi, yaitu salat dan silat.” Begitu menurut analisis GJ Nawi.

Para imigran Tionghoa berasal dari Tiongkok Selatan. Mereka bermigrasi ke Betawi setelah Dinasti Manchu berkuasa di Tiongkok pada 1644. Mereka mempunyai ciri antara lain rambut bagian depan dicukur dan memakai taucang. Mereka membawa kebudayaan negeri asalnya, salah satunya ilmu bela diri ke Batavia dan mengembangkannya.

Orang-orang di daratan Tiongkok menyebut ilmu bela diri dengan yu su yang artinya ilmu kelemasan atau wushu yang berarti seni perkasa atau seni perang. Ketika orang Tiong­kok Selatan mengembangkannya di Betawi, oleh orang Tionghoa peranakan itu disebut kuntao. Secara etimologi, kuntao berasal dari dialek Hokkian, yaitu kun thau yang secara harfiah berarti kepalan tangan atau tinju, atau secara bebas memiliki pengertian sebagai seni bertarung.

Imigran Tionghoa


Pengaruh ilmu bela diri imigran Tionghoa juga dapat dilihat dari karakter khas gerakannya yang cepat, kuat, dan energik, dengan variasi metode pukulan dan suara hentakan menyertai gerakan-gerakannya. Dominasi tangan sebagai karakter serangan dan pertahanan dalam maen pukulan Betawi menandakan adanya pengaruh ilmu bela diri yang dibawa orang-orang selaun Sungai Yangtze (Tiongkok Selatan), yang dikategorikan sebagai aliran nan chuan atau ilmu bela diri aliran selatan.

Pada masa itu, mulai muncul entitas ilmu bela diri penduduk natif yang baru terbentuk. Sebagian besar masyarakat menyebutnya dengan istilah lokal, yakni maen pukulan.

Berangsur-angsur pula, muncul nama-nama aliran maupun gaya maen pukulan di Batavia kemudian disusul kemunculan sosok pendekar, jawara, jago, dan jagoan yang piawai ilmu bela diri. Pada umumnya, nama aliran diambil dari nama seseorang yang mengkreasikan atau nama kampung tempat asal maen pukulan itu.

Sebelum dengan budaya Tionghoa, dapat pula ditemui akulturasi aliran bela diri di Nusantara. Banyak bela diri dari berbagai daerah yang turut menyuburkan maen pukulan Betawi, seperti dari Tatar Sunda, Banten, dan Sulawesi.

Menilik sejarahnya, hunian awal masyarakat Betawi di Kalapa (sebelum Jayakarta) telah berfungsi sebagai pelabuhan laut penting pada masa Kerajaan Tarumanagara pada abad ke 4-7 Masehi. Sejak saat itu pula, beragam etnik berbaur di tanah Betawi.

Ilmu bela diri etnik Sunda menjadi dasar bagi aliran-aliran maen pukulan. Ruang lingkup etnik Betawi secara demografi berada di jazirah Jawa bagian barat. Maen pukulan Betawi yang banyak berakulturasi ialah yang berada di pinggiran yang berdekatan dengan wilayah kebudayaan Sunda dan Banten.

Ilmu bela diri orang Melayu dan Bugis tidak ke­tinggalan memperkaya perbendaharaan teknik dan aliran maen pukulan Betawi. Beberapa gerakan khas bentuk lenggang dapat ditemukan pada komunitas Betawi di daerah Mampang, Tenabang, dan Kepulauan Seribu.

Penyebutan gerak jurus dan aliran yang masih menggunakan istilah asli menjadi indikasi adanya pengaruh itu. Sebagai contoh, sendeng dalam aliran pencak silat Bugis bertransformasi menjadi sinding dalam aliran maen pukulan Betawi. Pengaruh ilmu bela diri orang Mandar ditemukan di Kepulauan Seribu, yaitu istilah siliwaki atau seliwaki untuk menyebut seliwa di tanah Betawi. (M-2)

Penulis: Abdillah M Marzuqi

www.mediaindonesia.com

Minggu, 31 Juli 2016

Kendi, sang Penanda Peradaban

Bentuknya sederhana pada awal kemunculannya. Namun, seiring waktu berjalan, ia pun berubah. Ia tidak lagi seperti dulu. Ia mengikuti alur pikir manusia yang senantiasa berkembang. Bahkan saat ini, ia telah mengalami perluasan fungsi. Dari hanya tempat menyimpan air minum, ia menjelma menjadi penanda peradaban. Kendi tegar berdiri menapak pada alasnya yang datar, seperti ia menapak pada tiap masa peradaban, menjadi penanda dari proses perubahan, dan perkembangan pemikiran manusia.

Bermula dari rasa haus dan hasrat mereguk air esensi dari kehidupan, setangkup telapak tangan tak cukup menadah air pelepas dahaga itu. Lalu muncullah kendi. Awal kemunculannya hanya punya satu lubang. Tempat masuk dan keluar tidak dibedakan. Sungguh seserhana. 


Namun, siapa sangka bentuk sederhana itu nyatanya punya andil besar. Berdasarkan catatan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, kendi Nusantara menunjukkan begitu bervariasi rupa dan ragamnya. Kapan sebenarnya kendi mulai dikenal di Nusantara? Dalam catatan penemuan arkeologis, sejak 4.000 tahun lalu barang tanah liat poles warna merah mulai digunakan penduduk Kepulauan Nusantara.

Mewakili era itu ialah Situs di Leang Tuwo Manee, Maluku Utara. Pada zaman itu, koloni Austronesia mulai menghuni kepulauan. Mereka mulai hidup menetap, menjinakkan binatang, serta bertani bijian dan umbi. Kendatipun barang tembikar sudah dibuat, bentuk kendi tanah liat belum dikenal. Mereka baru menggunakannya untuk pengolahan makanan, seperti periuk dan tutupnya.

Seri penemuan kendi juga mulai muncul ketika perkakas logam mulai dikenal. Masa menjelang sejarah ditulis. Beberapa penemuan itu antara lain di Kerici, yaitu ditemukan kendi berbentuk botol yang dipoles warna merah dan dihias gores geometris pada lehernya yang pendek. 

Di Pantai Utara Jawa, kendi juga ditemukan di Buni yang berlokasi antara Bekasi dan Karawang. Ciri kendinya tanpa cerat leher tinggi bergelang, badannya kerucut terpotong; bentuk lain leher pendek, serta bentuk kepala setangkup kerucut dihiasi panil bergores berisi titik-titik dan binatang.

Kendi juga ditemukan di Situs Gilimanuk, Bali. Kendi itu difungsikan sebagai bekal kubur dengan bentuk tanpa cerat dan leher serupa kendi Buni. Badannya setengah bulat, dasar cembung. Berdasarkan penanggalan situs penemuan, kendi-kendi itu diperkirakan berasal dari abad pertama sampai 200 Masehi.

Kendi masa prasejarah
Ia punya badan cembung dengan tinggi menyudut di bagian tengah (proses sambungan). Badannya juga mengecil ke ujung, tanpa corot. Kendi ini ditemukan di Rengasdengklok dan diperkirakan dari abad ke-1. Masih dari Rengasdengklok, juga ditemukan kendi masa prasejarah abad ke-1. Kendi ini punya badan silindris mengecil ke bagian atas. Dasarnya datar. Lehernya tinggi menyudut di bagian tengah hasil dari proses persambungan. Badannya dihias dengan garis-garis geometris.

Juga ditemukan kendi tembikar masa prasejarah di Liang Bua, Flores Barat. Kendi ini diperkirakan dari abad ke-1. Badannya bulat seperti disambung di bagian tengah hingga bersudut. Bagian bawah sedikit cembung. Leher tinggi dan sedikit menggelembung di bagian tengahnya. Ujung tepian tegak yang digunakan untuk memasukkan air dan mengeluarkan air. Permukaan halus dan mengilap hasil proses upam.

Berlanjut pada penemuan kendi pada masa kerajaan Majapahit, terdapat beberapa kendi yang ditemukan di Trowulan. Diperkirakan kendi-kendi itu berasal dari abad ke-12-13-an. Pertama, kendi berwarna krem, bentuk seperti labu badan berganda. Corotnya melengkung dengan cincin diujungnya. Kendi ini dibuat dari bahan glasir hematit merah. Ia punya leher pendek dan ujung mulut melebar ke samping seperti payung.

Kedua, kendi Majapahit berbahan tembikar putih. Badannya cembung hampir membulat. Lehernya panjang mengecil ke atas dan bagian tengah bercincin. Ujung mulut tepian melebar seperti payung. Corot panjang lurus mengecil ke ujung. 

Ketiga, kendi Majapahit berwarna kemerahan. Badan cembung. Le­hernya pendek. Ia punya gelang antara badan dan leher. Bagian tengah leher juga bergelang melebar seperti payung. Tepiannya tegak. Corotnya cembung mengerucut pendek, bergelang di bagian ujung, dan mengecil. 

Keempat, kendi susu warna merah. Permukaannya halus hasil dari proses upam. Badannya cembung membulat dengan hiasan garis-garis vertikal timbul. Lehernya panjang bercincin antara badan dan leher. Ujung leher melebar seperti tutup yang telungkup, tepian tegak.

“Kendi berkembang mengikuti geliat zaman,” begitu menurut Sony C Wibisono dalam pameran berjudul Kendi Kundi Kuno Kini pada Juni lalu. Artinya, kendi tak semata wadah fungsional, makna sosial budaya juga disematkan pemakainya. Kendi akan berkembang mengikuti perubahan pemikiran masyarakat pada masanya. 

Bentuknya memang sederhana pada awal kemunculannya. Namun, seiring waktu berjalan, ia pun berubah. Ia tidak lagi seperti dulu. Ia mengikuti alur pikir manusia yang senantiasa berkembang. Bahkan saat ini, ia telah mengalami perluasan fungsi. Ia dulu hanya tempat me­nyimpan air minum. Namun saat ini, beberapa sengaja diciptakan untuk memenuhi hasrat estetik pembuatnya. Kendi telah menjelma menjadi penanda peradaban. (M-2)

Penulis: Abdillah M Marzuqi
www.mediaindonesia.com

Minggu, 24 Juli 2016

Menelusuri Jejak Siti Hinggil Blambangan

Srolah berbagi ruang, berdesakan, saling mendampingi antara yang dulu dan yang baru, gapura itu berdiri kukuh. Bentuk kuno gapura itu khas layaknya bentuk yang sering didapati pada bentuk gapura candi. Gapura berbahan batu bata merah berdiri berimpit dengan bangunan modern yang berada di kedua sisinya. Samping kanan dan kiri tidak ditemukan pembatas ruang kosong. Sebab langsung bertemu dengan bangunan lain yang digunakan penduduk sekitar sebagai kantor dusun. 

Beberapa bangunan di sekitarnya berfungsi sebagai toko dan rumah. Di tengah gapura, ada dua daun pintu yang terbuat dari teralis besi. Tidak begitu lebar jarak antarbesi sehingga ketika pintu ditutup masih didapati pandang tentang yang ada di balik teralis. Di samping pintu teralis, dua pintu berdiri papan nama bertulis ‘Situs Siti Hinggil Desa Tembokrejo Kecamatan Muncar’. Maklumlah, Situs Siti Hinggil ini berada di sekitar kawasan jual beli. Ia berada di sebelah timur pertigaan Pasar Muncar. Kurang lebih 50 meter dari pertigaan tersebut. Situs Siti Hinggil berada di pesisir pantai dan berdekatan dengan Pelabuhan Muncar. lebih kurang 400 meter arah utara dari Tempat Pelelangan Ikan.

Lepas dari pintu teralis, ada tangga bertingkat yang terbuat dari batu. Tidak begitu lebar memang, tapi cukup untuk dilewati dua orang berjalan berdampingan. Semakin ke atas sampai pada dataran yang lebih luas. Cukup luas sampai ada semacam saung yang bisa digunakan untuk duduk setelah lelah menapaki tangga. 

Ketika kita mendengar kata Banyuwangi, tentu masih lekat dalam ingatan tentang suku Osing, Pantai Lengkung, Hutan Alas Purwo, dan Kerajaan Blambangan. Jika yang sebelumnya masih bisa didapati sekarang ini, bagaimana dengan Kerajaan Blambangan? Tentu sudah tidak ada lagi. Namun, peninggalannya masih dapat ditemui meski sangat sedikit. Salah satunya Situs Siti Hinggil.

Siti Hinggil atau Setinggil dalam sebutan masyarakat setempat berasal dari kata siti yang berarti tanah dan hinggil/inggil berarti tinggi. Ya benar saja, ketika naik ke puncak Siti Hinggil, pemandangan lautan lepas dengan kapal-kapal nelayan terlihat cukup jelas meskipun sedikit terhalangi oleh bangunan rumah susun yang padat di sekitarnya. Juga tampak jelas pemandangan Pelabuhan Muncar. 

Ramainya ratusan kapal didominasi warna hijau, kuning, dan merah. Kapal nelayan itu tengah bersandar di kolam labuh selepas melaut menangkap ikan. Itulah mengapa dinamakan Siti Hinggil, sebab objek ini memang paling tinggi daripada tempat sekitar. “Siti Hinggil itu berada di ketinggian 61 dari permukaan laut (dpl),” terang terang Slamet Ari Wibowo, juru kunci yang sekaligus menjadi kamituwo (kepala dusun) di Dusun Muncar.

Siti Hinggil merupakan salah satu situs peninggalan Kerajaan Blambangan yang berupa daratan tinggi yang digunakan sebagai pos pengintai musuh sekaligus lalu lintas transportasi laut. Letak Siti Hinggil dinilai sangat strategis dan digunakan sebagai pos pengawasan pada masa Kerajaan Blambangan, untuk mengawasi lalu lintas transportasi laut di sekitar Teluk Pang-Pang (laut yang menjorok ke daratan dari Muncar) hingga ke arah Selatan Semenanjung Blambangan. 

Menurut cerita, telapak kaki itu ialah tempat berdiri Prabu Bhre Wirabhumi untuk memantau segala kegiatan yang ada di Blambangan. Siti Hinggil dulunya merupakan pos pemantauan Kerajaan Blambangan. Saat itu kerajaan tersebut di­pimpin Bhre Wirabhumi yang bergelar Prabu Minakjinggo pada pertengahan abad ke-13. “Siti Hinggil itu memang bekas telapak kakinya Bhre Wirabhumi. Ia anak Raja Majapahit dari istri selir. Beliau menjabat sebagai raja Blambangan dulu pada abad ke-13,” lanjut Slamer. Jejak-jejak peninggalan pasukan yang dipimpin Prabu Minakjinggo di lokasi tersebut yang ada hanyalah telapak kaki di atas bebatuan yang hampir hancur dimakan zaman.

Mengawasi kapal
Dari tempat tersebut terlihat jelas selat Bali dan Tanjung Sembulung. Tempat tersebut juga merupakan tempat pengintaian kapal-kapal yang melewati Selat Bali. Pada pertengahan abad ke-13 pun, masyarakat sering menggunakan transportasi laut sebagai alat penghubung satu daerah ke daerah lainnya sehingga Prabu Minakjinggo menempatkan pasukannya untuk berjaga-jaga di pos Siti Hinggil tersebut. 

Keterangan fungsi Siti Hinggil ini juga diperkuat dengan keterangan sejarawan Universitas Gadjah Mada, Sri Margana. Ia mengatakan bahwa situs tersebut memang untuk memantau kapal-kapal yang mendarat ke bumi Blambang­an, atau sebaliknya, untuk mengawasi kapal yang meninggalkan Blambangan.

“Memang itu dibikin untuk mengawasi kapal, untuk mengintai pasukan musuh yang datang dari selat Bali,” terang sejarawan Universitas Gadjah Mada Sri Margana.
“Jadi sebelum masa VOC datang, itu dipakai prajurit Blambangan untuk melihat kalau ada kapal-kapal yang akan mendarat ke Blambangan,” imbuh dosen yang menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Leiden Belanda itu. 

Hasil disertasinya lalu diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Ujung Timur Jawa: Perebutan Hegemoni Blambangan, 1763-1813. Fungsi itu juga masih berlaku ketika Belanda datang. Dulunya, tempat ini dipakai VOC untuk memata-matai musuh dari kerajaan-kerajaan Bali yang akan melakukan penyerangan. Pelabuhan Muncar menjadi jantung pertahanan sekaligus pusat militer VOC pada abad ke-17 di Blambangan. 

Ketika 1771-1773 itu ada perang besar. Belanda menduduki wilayah pesisir. Belanda menjaga banyak tempat, terutama di pesisir, karena diduga banyak bantuan dari pemberontak melawan VOC datang dari Bali. “Pelabuhan Muncar itu dulu namanya Lopampang atau Pelabuhan Ulu Pampang. Jadi kalau pasukan VOC kalau mendarat ke situ,” imbuhnya. 

Sampai sekarang, Pelabuhan Muncar tetap padat karena menjadi tempat bergantung 13 ribu nelayan mencari ikan dengan 1.700-an kapal. Hasil tangkapan nelayan dalam setahun rata-rata mencapai 30 ribu ton ikan yang menjadikan Muncar sebagai penghasil ikan terbesar di Indonesia. Sampai sekarang pula, Siti Hinggil tetap menjadi rujukan wisata bagi masyarakat sekitar, entah itu untuk wisata alam, maupun wisata religi. (M-2)

Penulis: Abdillah M Marzuqi
www.mediaindonesia.com