Dayang Ayu - Dideng Dang Ayu

Legenda Daerah Sumatra Barat

Lutung Kasarung dan Purbasari

Legenda Daerah Jawa Barat

Sangkuriang

Legenda Daerah Jawa Barat

Bawang Merah dan Bawang Putih

Legenda Rakyat Jawa Barat

Tarian Klasik Keraton Jawa

Legenda Daerah Jawa Tengah

Minggu, 19 Juni 2016

Tarian Klasik Keraton Jawa

Bedhaya Minangkalbu berbincang tentang kisah anak manusia dalam mengarungi hidup. Proses dilewati untuk menemukan kesejatian hidup.

Sembilan penari memasuki altar tari. Berlemah gemulai mereka berjalan berurutan. Tiba di tengah ruang, mereka sejenak merendahkan tubuh sampai posisi pinggul hampir sejengkal dari lantai.

Mereka tidak berbeda dalam busana, rias, maupun tata rambut. Para penari mengenakan dodot atau basahan. Penari juga menggunakan gelung rambut dan berbagai aksesori perhiasan, mirip seperti busana pengantin adat Jawa.

Iringan gamelan lembut mengalun. Bunyian itu serasa membimbing masuk dalam alam syahdu. Meski penuh bunyian, suasana yang terasa justru keheningan. Tidak ada suara mengentak sadar. Semua mengalir lembut. Berpadu gerak dengan gamelan pengiring. Bersama, mereka menari dengan halus dan tentram.

Sesaat kemudian mereka menundukkan badan sembari mengambil ancang-ancang untuk menyatukan telapak tangan tepat. Mereka menghormat kepada semua yang hadir. Bukan bermaksud menyembah sebab itu hanya sebagai penghormatan. Saat mereka menghormat, ke-10 jemari mengarah ke atas. Itu simbol pernyataan sembah kepada Sang Pencipta.

Penari membawakan peran dengan nama yang berbeda-beda, yaitu Batak, Gulu, Dhadha, Endhel Weton, Endhel Ajeg, Apit Meneng, Apit Wingking, Apit Ngajeng, dan Buncit. Kesemuanya menyimbolkan unsur yang terdapat dalam diri manusia. Batak sebagai simbol pikiran dan jiwa. Endhel Ajeg sebagai keinginan hati atau nafsu, sedangkan yang lain merujuk pada anggota tubuh.

Mereka menarikan tari Bedhaya Minangkalbu, sebutan berasal dari bahasa Sansekerta, yakni bedhaya. Kata itu punya arti menari berjajar bersama. Itulah sebabnya mereka berjumlah sembilan orang. Kesemuanya wanita.

Bedhaya ialah bentuk tarian klasik Jawa yang dikembangkan di kalangan keraton-keraton pewaris takhta Mataram. Bedaya ditarikan secara gemulai dalam tempo yang lambat, tentu dengan iringan gamelan, meski terkadang hanya beberapa alat dari gamelan yang dibunyikan saat gerak tertentu. Tarian Bedhaya sering kali merupakan hasil inspirasi raja mengenai suatu peristiwa tertentu.

Bedhaya merupakan tarian klasik Jawa dengan sembilan penari meski terdapat beberapa Bedhaya dengan tujuh penari yang dikembangkan di kalangan keraton pewaris takhta sejak zaman Kerajaan Mataram. Dalam mitologi Jawa, sembilan penari, menurut Eny Sulistyowati, menggambarkan sembilan arah mata angin yang dikuasai sembilan dewa (Nawasanga). Atau versi lain menyebut sebagai lambang Sembilan Wali atau Wali Songo.

Disakralkan

Memang terdapat beberapa tarian Bedhaya yang disakralkan dan dikeramatkan. Bahkan beberapa Bedhaya mensyaratkan penari masih perawan, tidak sedang dalam masa menstruasi, dan didahului semacam puasa sebagai bagian prasyarat. Tarian Bedhaya jenis ini hanya ditarikan dalam saat tertentu, tidak diperkenankan ditarikan dalam setiap momen.

"Bedhaya memang ada beberapa yang tidak boleh dipertunjukkan di luar keraton," terang pencipta Bedhaya Minangkalbu, Eny Sulistyowati. Seperti Bedhaya Ketawang yang ditarikan saat perayaan jumenengan dalem (pelantikan) Sunan Surakarta. Tarian ini menceritakan pertemuan Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul serta perjanjian keduanya untuk saling menjaga kedua kerajaan.

Ada pula Bedhaya Anglirmendung untuk mengenang pertempuran yang dipimpin Sri Mangkunegara I melawan pasukan gabungan Surakarta dan VOC di Ponorogo pada 1752.

Sesuai dengan khas Bedhaya yang punya cerita tentang sesuatu, Bedhaya Minangkalbu berbincang tentang kisah anak manusia dalam mengarungi hidup. Proses dilewati untuk menemukan kesejatian hidup. Bedhaya Minangkalbu bicara tentang kesejatian diri. Sebuah upaya untuk menemukan inti kebahagiaan yang tidak berhijab. Meraih hati di dalam hati. Sebuah keikhlasan tanpa batas. Sebuah rasa tanpa rasa. "Jadi semua rasa yang disebut bahagia dan senang sebenarnya tidak ada rasanya untuk orang yang ikhlas. Apalagi derita ataupun sedih," terang Eny.

Minangkalbu diambil dari sebuah lakon pewayangan Dewa Ruci. Lakon tersebut berkisah tentang Bima saat mencari ilmu kesempurnaan tentang makna kesejatian hidup. Minangkalbu ialah dasar samudra yang menjadi tempat Bima bertemu Dewa Ruci. Minangkalbu sekaligus menjadi tempat Bima menemukan kedamaian dan kebahagiaan.

"Jadi Minangkalbu sebenarnya inti pusaran samudra," sambung Eny.

Minangkalbu diambil dari kisah yang dialami Eny sebagai pencipta tarian. Ia berkaca pada proses kehidupan yang dialaminya. Seketika berada di puncak kejayaan, beberapa saat kemudian terpuruk dalam kenestapaan. Saat menemui banyak hambatan dan ringtangan, justru saat itulah ia menemukan kekuatan, semata-mata karena keikhlasan dan kepasrahan kepada Sang Pencipta.

"Di dalam kejatuhanku, aku temukan kekuatanku," tegas Eny. Minangkalbu juga menyoroti tentang mikrokosmos dan makrokosmos. Hubungan timbal balik antara manusia dan jagad (alam). Juga sumber inti meridian organ tubuh manusia yang terhubung dalam konstruksi kejiwaan manusia, 'nawa yatmaka' (babahan hawa sembilan).

"Sehingga Bedhaya merupakan perwujudan dari patrap manembah. Banyak nilai diungkapkan, seperti pencarian kesempurnaan hidup, penemuan jati diri, keserasian, keselarasan, keseimbangan hidup, cinta damai, tentang kewicaksanaan dan laku utama," papar Eny seraya menyebut tarian karyanya ialah sekaligus wujud bakti pada ibunya.

Proses 'ngrepto' (menciptakan) tarian ini juga tidak sebentar. Tarian Minangkalbu butuh waktu sekitar setahun untuk dikontemplasikan. Belum lagi proses penerjemahan dari konsep tari ke bentuk tari.

Gerak tarian yang lembut dan mengalun bukan diperoleh dari hasil hitungan yang disepakati para penari. Ketika mereka tengah menari, justru yang paling berperan ialah rasa gerak. Jelang pementasan pun masih ada beberapa ritual yang harus dijalani. Dari mulai prosesi pemberkatan di Kasunanan Surakarta sampai prosesi sengkeran (pingitan) para penari.

Biasanya, sehari sebelum pementasan, para penari menyatukan seluruh energi positif sekaligus menolak energi negatif. Mereka bersama berdoa dan membersihkan diri lahir batin, sekaligus menyatukan rasa untuk membangun sinergi harmoni, guna mempersembahkan tarian tentang 'rasa tanpa rasa' dan 'zikir lewat gerak'. (M-2)

Penulis: Abdillah M Marzuqi
www.mediaindonesia.com

Minggu, 12 Juni 2016

Adat Menyambut Tamu Terhormat di Suku Kamoro

Riuh suara pukulan tifa dan teriakan suara suku Kamoro asal Papua terdengar di halaman Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH), Universitas Gadjah Mada. Keriuhan itu menandakan tamu kehormatan telah tiba di tempat acara. Tampak 4 orang dari suku Kamoro menari menyambut tamu dan 2 lainnya memukul tifa. Dari 4 orang yang menari, 1 dari mereka berada di depan tamu. Sambil tetap menari, ia mengarahkan tamu terhormat dengan tongkat komando menuju
tempat acara.

“Kami menyebutnya Taware, tarian untuk menyambut tamu yang kami hormati. Di tempat kami, upacara ini diikuti hingga ribuan orang dari suku Kamoro, sangat meriah, ” kata Herman Kiripi, salah seorang dari suku Kamoro, 2 Juni. Di PKKH, tarian tersebut hanya dilakukan sekitar tujuh orang sebagai bagian memperlihatkan kekayaan seni dan budaya Papua di acara Papuan Days yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Papua Gadjah Mada (Kempgama), pada 2 dan 3 Juni.

Dengan ramah, ia dan anggota suku Kamoro yang lain menceritakan tarian penyambutan tamu tersebut. Menurut dia, tarian dan suara yang dipertunjukkan menggambarkan kegembiraan dan penghormatan atas kehadiran sang tamu. 


Dengan menggunakan pakaian adat, mereka kemudian mengarak tamu terhormat hingga tempat tujuan. Pakaian adat yang mereka kenakan ialah tauri, rok rumbai-rumbai yang terbuat dari janur sagu, dan upauta, ikat kepala yang dihiasi bulu burung kasuari atau bulu burung cenderawasih.

Untuk perempuan, mereka menggunakan paita, penutup dada yang terbuat dari pohon waru. Selain itu, mereka juga menggambari tubuh mereka dengan cat warna putih dengan berbagai motif yang diperbolehkan untuk marganya, dari motif nsang ikan, jari kepiting, hingga kulit buaya. “Gambar di tubuh ini sudah menjadi adat turun-temurun di suku kami,” kata dia. 


Setelah pada siang hari tamu terhormat disambut dengan tarian Taware, pada malam harinya, suku Kamoro akan menggelar upacara Tifa Duduk. Acara Tifa Duduk dimulai setelah matahari tenggelam hingga fajar menyingsing. “Kami akan berpesta, makan-makan, dan menari hingga pagi,” kata dia.

Makanan yang disajikan ialah aneka ragam hasil bumi yang ada di lingkungan mereka, dari sagu, ikan, kepiting, ulat sagu, hingga tambelo (serangga di pohon sagu). Acara dimulai dengan menancapkan batang janur kelapa atau janur sagu di tempat pesta. Selain makan-makan, minum-minum, dan menari, di pesta tersebut ada yang bertugas mencabuti daun janur atau sagu dari batangnya satu per satu, kemudian membakarnya sebagai penanda waktu. 


Sebisa mungkin seluruh janur itu bisa habis tepat saat fajar menyingsing. “Yang menancapkan batang janur, membakar daun janur, dan yang mencabut batang janur dikerjakan marga-marga tertentu,” kata dia. Pesta Tifa Duduk berakhir dengan dicabutnya batang janur atau sagu. Setelah itu, pada pagi harinya, seluruh anggota suku Kamoro akan berkegiatan seperti biasa.

Suku Kamoro

Suku Kamoro hanyalah 1 dari sekitar 250 suku yang ada di Pulau Papua (berdasar jumlah bahasa yang dipublikasikan Summer Institute of Language). Istilah Kamoro muncul dari seorang misionaris Belanda. Menurut Octavianus Etapoka, salah seorang suku Kamoro yang juga pengelola Yayasan Baramowe Weyaiku Kamorowe, Kamoro dalam bahasa keseharian berarti ‘kita semua orang’. Istilah suku Kamoro terbilang baru karena dalam banyak publikasi sebelumnya mereka termasuk orang Mumuika pesisir.

Mereka hidup di area seluas 250 km pesisir Selatan, antara Teluk Etna di sisi barat dan Sungai Minajerwi di bagian timur. Populasi mereka lebih dari 18 ribu jiwa dan tersebar di 40 desa. Mereka berbicara dengan bahasa Kamoro, yang memiliki enam dialek. 

Suku Kamoro memiliki kehidupan tradisi seminomaden dan tidak bisa dipisahkan dengan 3 S, yaitu sagu, sungai, dan sampan. Dari kehidupan itu, berbagai seni pun terlahir, seperti seni ukir dan gambar di tubuh. Motif ukiran dan gambar yang mereka hasilkan tidak lepas dari yang mereka temui sehari-hari, seperti insang ikan, jari kepiting, dan kulit buaya.

Dalam mengukir, kata dia, mereka tidak bisa seenaknya membuat ukiran. Tiap-tiap marga memiliki motif masing-masing yang tidak boleh dikerjakan marga lain. Selain itu, hanya keturunan laki-laki yang boleh mengukir. Adat kebiasaan di suku Kamoro dilakukan secara turun-temurun. “Kami masih tetap melestarikan adat kebiasaan kami hingga sekarang,” kata dia. Menurut dia, seni budaya Papua sangat kaya. 

Suku Kamoro hanyalah salah satunya. Untuk memperkenalkan seni-budaya suku Kamoro kepada masyarakat yang lebih luas, sering kali ia pergi keluar Papua untuk menggelar pentas seni dan pameran seni budaya suku Kamoro, termasuk di UGM dalam Papua Days.

Suku Kamoro merupakan salah satu suku yang berada dekat dengan daerah kerja PT Freeport Indonesia. Vice President Corporate Communication PT Freeport Indonesia, Riza Pratama, mengungkapkan, pihaknya mendukung berbagai hal terkait dengan pelestarian seni budaya yang ada di Papua, termasuk suku Kamoro. 

Suku Kamoro sengaja diajak ke Yogya untuk memperkenalkan seni dan budaya mereka secara lebih dekat ke masyarakat Yogya dan sekitarnya serta pelajar dan mahasiswa yang ada. Menurutnya, Papua merupakan daerah yang memiliki ragam budaya yang kaya dan unik. “Komitmen tinggi dari kami dalam mendukung seni dan budaya Papua agar lebih dikenal secara luas,” pungkas dia. Suku Kamoro hanyalah satu dari sekian banyak khazanah seni dan budaya Indonesia yang ada dan terus dilestarikan. (M-2)


Penulis: Ardi Teristi Hardi
www.mediaindonesia.com

Minggu, 29 Mei 2016

Seusai Ritual Adat Kematian itu Membebaskan

Masyarakat adat Manggarai Tengah meyakini peristiwa kematian bisa merusak kehidupan manusia di alam fana, tanaman, hingga ternak peliharaan yang menopang kehidupan manusia. Ketakutan akan dampak buruk yang disebabkan peristiwa kematian dan murka roh jahat menyebabkan masyarakat adat Manggarai Tengah menggelar ritual adat kematian.

Dipercaya, rangkaian ritual adat yang dilaksanakan saat kematian mampu menghindarkan petaka bagi sanak keluarga orang meninggal dari pengaruh roh jahat. Sebaliknya, jika ritual adat tidak dilaksanakan, kerabat mendiang, hewan peliharaan, maupun tanaman pertanian akan tertimpa petaka.

Ritual adat pun membebaskan tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi ternak peliharaan dan tanaman pertanian. Di Dusun Mangge, Desa Meler, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT, jasad seorang ayah masih terbujur kaku. Di hadapan ratusan pelayat dan keluarga yang melayati jenazah, juru bicara adat mulai melitani perihal sakit hingga meninggalnya mendiang.

Masyarakat adat setempat sedang melakukan ritual poe woja latung, salah satu rangkaian dalam ritual adat kematian di Manggarai. Kepada Media Indonesia, Hironimus Jeharun, tokoh adat Desa Meler, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Sabtu (7/5), menuturkan juru bicara adat yang dipercayakan keluarga bertugas berbicara kepada arwah orang yang meninggal. Pembicaraan dalam bahasa adat Manggarai berisi permintaan maaf dan permintaan untuk terbebas dari pengaruh roh jahat maupun penyakit.

"Selama engkau sakit, banyak kerabat berkunjung. Keluarga sudah berupaya bawa ke rumah sakit, tetapi Tuhan berkehendak lain dan kami tidak bisa berbuat apa-apa. Tolong doakan bagi anak, mama, dan keluarga besar. Berikan berkat, hindari dari segala penyakit, bawa semua penyakit dan kesialan ke alam baka, beri kesegaran jasmani dan rohani. Kalau ada anggota keluarga yang dipaksa hendak ikut ke alam baka, kiranya ditolak karena belum saatnya. 


Jauhkanlah pengaruh roh jahat yang menyebabkan sakit dan menderita, mohon mendiang menjadi pelindung keluarga yang ditinggalkan dan menghalau segala jenis penyakit. Jikalau ada bisikan atau perundingan roh jahat di depan gerbang kampung ini, tolong dihalau," ujar Hironimus Jeharun menjelaskan mantera yang diucapkan juru bicara adat keluarga dalam ritus poe woja lantung.

Petrus Ben, warga Desa Meler, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, menyatakan ritual adat saat kematian merupakan bentuk penghormatan dari orang-orang dekat dengan mendiang. Ritual dimaksudkan untuk memohon maaf atas khilaf kata maupun perbuatan kerabat dekat selama masa hidup mendiang. 

Ritual adat kematian juga sebagai bentuk keikhlasan keluarga melepaskan mendiang menuju alam baka. Seperti ritual adat lainnya, ritual adat kematian pada masyarakat Manggarai membutuhkan ayam dan babi kecil sebagai hewan kurban pilihan, hewan yang diyakini mampu meruntuhkan kemarahan arwah.

Arwah orang meninggal akan diberikan sesajian berupa potongan hati dan isi daging paha yang sudah dibakar dan dipotong kecil-kecil dan diletakkan di tanah. Darah ayam diteteskan ke dalam wadah bercampur air lalu diminum secara bergilir, simbol me rekatkan hubungan darah anakanak dan cucu yang tidak pernah padam oleh kematian sekalipun. Tata cara ataupun syair yang digunakan dalam ritual adat kematian pun berbeda-beda, bergantung pada cara kematian, usia, dan status perkawinan seseorang.

Ritual tokong bako
Ritual ini menjadi pembuka rangkaian ritual adat kematian di Manggarai. Ritual tokong bako dimaksudkan untuk meyakinkan arwah mendiang bahwa dia sedang dijaga sanak keluarga dan kerabat. Ritus itu juga dimaksudkan untuk menjaga kejernihan hati arwah mendiang agar tidak terpengaruh atau dirasuki roh jahat. J

ika kematian terjadi di pagi hari, ritual pembukaan dilaksanakan menjelang malam hari dipimpin juru bicara adat. Dalam ritus itu, ayam pun disembelih, dibakar, dikasih bagian atau sesajian untuk mendiang di dalam piring, sendok, dan gelas.

Ela haeng nai (sakratulmaut)
Ritus ini menggambarkan wujud kecintaan sanak keluarga dalam proses sakratulmaut bahwa seluruh anggota keluarga juga ada mendampingi anggota keluarga mereka di saat ajal datang menjemput. Ritus ini berupa penyerahan tanggungan berupa hewan babi oleh keluarga inti, anak rona (saudari perempuan dari mendiang) dan anak wina (menantu). Babi yang diberikan itu akan dimanfaatkan dalam rangkaian upacara liturgi keagamaan maupun adat selama tiga hari terhitung sejak mendiang dikuburkan.

Elha tekan tanah
Ritual ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terhadap jenazah dan tanah tempat mendiang akan dimakamkan. Ritual dibuat saat penggalian dimaksudkan untuk menghindari batu penghalang, lipan, dan ular keemasan. Ada syair penting dalam ritual elha tekan tanah, yakni 'neka manga batu kepe, ngongo laang, lipang lewes'. 

Jangan ada batu kepe (batu penghalang), lipang lewes (kaki seribu), dan ngongo (ular kecil berwarna keemasan). Jika sudah dibuatkan ritual tetapi masih juga menemukan hambatan, dapat dipastikan akan ada kerabat yang ikut menyusul ke liang lahad.

Poe woja latung
Ritual poe woja latung ialah ritual untuk memohon agar arwah orang yang meninggal tidak membawa serta seluruh harta yang didapat selama hidupnya atau dalam bahasa Manggarai disebut 'neka babar pale wa, neka beba pale eta'. 

Ritual ini juga untuk memohon bantuan doa dari sang mendiang untuk kerjakerja kerabatnya yang ditinggalkan. Selain mempersembahkan sesajian berupa hati ayam dan babi, kerabat orang yang meninggal pun meminum darah ayam yang dicampur ke dalam wadah berisi air.

Saung taa atau pembebasan
Ritual saung taa ialah ritus terakhir (dilakukan pada hari ketiga terhitung sejak jenazah dimakamkan). Ritual ini sebagai simbol pembebasan dari dukacita menjadi sukacita. Ritus ini sebagai simbol tidak ada lagi ratap dan tangisan. Kesedihan selama satu minggu pun berganti, saatnya kerabat mendiang bebas bekerja lagi.

Saung taa menjadi ritual terakhir dalam rangkaian ritual adat kematian masyarakat Manggarai Tengah. Ritual ini ditandai dengan mencuci kain putih atau lulung tove lepet buing. Tikar bekas membaringkan jazad pun digulung. (M-2)

Penulis: Alexander P Taum
www.mediaindonesia.com

Minggu, 15 Mei 2016

Ritual Nyamut Muai Kearifan Lokal Dayak Tae

Menjelang gelap, rombongan itu tiba di tanah Desa Tae. Mereka melangkah pelan melewati jalan tak beraspal. Agak berhati mereka berjalan, sebab kondisi jalan menurun meski tak terlalu curam. Ditambah lagi, jalanan tanah itu licin dan berisiko menggelincirkan akibat sebelumnya mendapat jatah siraman air dari langit. Agak jauh dari tempat rombongan berpisah dari kendaraan, banyak warga desa yang tengah berkumpul. Masih terlihat jelas dengan mata telanjang dengan jarak yang hanya sekitar 200 meter.

Mereka berkumpul di tengah tanah lapang. Kala itu, rombongan sedang berkunjung ke masyarakat Dayak yang bermukin di Desa Tae, Kecamatan Balai Batang Tarang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Para warga desa berkumpul di sebelah dalam gapura buatan. Tidak ada satu pun dari mereka yang berada di luar gapura. Ada semacam garis imajiner terbentuk dengan tarikan garis lurus dari gapura tersebut.

Gapura penyambutan terbuat dari dua tiang bambu dengan kayu melintang di atasnya, sedangkan pelepah kelapa digantung dengan daun berjuntai ke bawah. Seperti halnya para warga yang tak boleh keluar dari batas, para tamu pun tidak diperbolehkan melewati batas juntaian daun kelapa. Ketika rombongan semakin mendekat ke gapura, para warga pun berlaku sebaliknya. Beringsut mereka merapat ke arah gapura. Hingga pada akhirnya, rombongan dan warga berhadapan. Hanya gapura bambu jadi pemisah.


Menghormati tamu

Namun, sebelum rombongan melewati batas gapura bambu. Terlebih dahulu mereka harus melaksanakan upacara adat nyamut muai. Ritual tersebut dimaksudkan untuk menyambut dan menghormati tamu yang datang ke tanah adat Dayak Tae. Prosesi tepat dilakukan di depan gapura penyambutan. Tetua adat memulai pembacaan mantra. Lirih dan lamat terdengar.

Di tangan mereka memegang mangkuk berisi beras kuning. Sesaat kemudian, beras kuning melayang. Butirannya bertabur di atas kepala para rombongan. Belum selesai, salah seorang perwakilan rombongan diminta untuk menyembelih ayam jantan. Seorang dari warga membawa ayam jago tersebut dengan kondisi kaki terikat. Seorang lainnya menenteng sebilah pisau.

"Ini dipotong dulu," ujar salah seorang dari kumpulan warga. Seorang dari rombongan maju ke depan. Ia menerima pisau dari warga. Ia mulai momotong leher ayam tersebut. Lalu darah yang mengucur pun tak dibiarkan sampai di bumi. Sebab ditadahi dalam mangkuk yang telah disiapkan sebelumnya. Darah dalam mangkuk tersebut kemudian di-calek-kan (sentuh/oles) pada setiap tamu dengan sehelai bulu ayam. Setelah semua selesai, apakah rombongan sudah diperbolehkan melewati gapura? Ternyata belum. Sebab masih ada beberapa rangkaian ritual. Pemuka adat menarik diri ke arah samping. Giliran seorang dara maju sembari menyodorkan siakng atau sesajen. Siakng diletakkan dalam bokor kecil di atas dulang.

Ternyata, setiap peserta rombongan harus mengonsumsi salah satu yang tersaji di dalam bokor. Beberapa di antaranya ada pinang, gambir, rokok daun, sirih, dan rokok nipah. Namun, jika tidak terbiasa mengunyah sirih atau merokok nipah (daun), para tamu cukup menyentuh bokor kecil tersebut. Seusai semua prosesi, para tamu diperbolehkan melewati gapura penyambutan. Para rombongan telah diterima secara adat untuk masuk ke wilayah desa.

"Ini tanda kalian disambut secara tradisi adat di desa ini. Kita pamit pada keramat," terang pemuka adat Dayak Tae Temenggung Anuk. Tumenggung Anuk juga menerangkan tujuan dari upacara nyamut muai. Setidaknya ada tiga hal yang dimaksudkan dalam pelaksanaan upacara nyamut muai. Pertama meneguhkan tradisi yang telah ada sejak zaman leluhur. Kedua pengakuan masuk bagi orang luar. Ketiga memohon keselamatan bagi orang luar maupun orang dalam.

"Agar tidak kenapa-kenapa," tegas Anuk. Upacara nyamut muai tidak hanya dilakukan sekali. Beberapa kali rombongan mendapati upacara adat tersebut. Sebut saja sebelum masuk hutan adat Tembawang atau masuk ke kampung lain. Di situ ada nilai penghormatan tuan rumah terhadap tamu. Selain itu, upacara ini merupakan cerminan dari kearifan masyarakat Dayak Tae. Kearifan budaya untuk menjaga hubungan harmonis antara manusia dan Tuhan, manusia dan manusia, serta manusia dan alam.

Sungguh penghormatan yang luar biasa terhadap tamu. Setelah upacara adat nyamut muai, rombongan juga dijamu dengan makanan ala masyarakat lokal. "Ini ayam yang dipotong tadi," ujar seorang perempuan sembari membawa baskom berisi daging ayam yang telah dimasak. Malam harinya, salah seorang dari rombongan diminta untuk menyembelih dua ekor ayam yang bakal dimasak untuk esok hari. Sebab beberapa dari rombongan memang tidak memakan daging makhluk hidup termasuk ayam yang tidak disembelih menurut tata cara mereka.

Selain itu, jangan harap merasakan perut kosong saat berkunjung ke Desa Tae. Masyarakat setempat sangat senang jika bisa menjamu tamu dengan baik. Bahkan pemuka kampung menyatakan permohonan maaf sebab merasa belum bisa menjamu tamu dengan layak. Padahal, mereka telah merelakan buah-buahan mereka dipanen raya oleh rombongan. Sungguh keramahan dan penghormatan yang tak terkira. Jadi, tersenyumlah saat berkunjung ke Desa Tae, maka mereka akan membalas dengan senyuman yang tak kalah manis. (M-2)

Penulis: Abdillah M Marzuqi
www.mediaindonesia.com