Dayang Ayu - Dideng Dang Ayu

Legenda Daerah Sumatra Barat

Lutung Kasarung dan Purbasari

Legenda Daerah Jawa Barat

Sangkuriang

Legenda Daerah Jawa Barat

Bawang Merah dan Bawang Putih

Legenda Rakyat Jawa Barat

Tarian Klasik Keraton Jawa

Legenda Daerah Jawa Tengah

Minggu, 29 Mei 2016

Seusai Ritual Adat Kematian itu Membebaskan

Masyarakat adat Manggarai Tengah meyakini peristiwa kematian bisa merusak kehidupan manusia di alam fana, tanaman, hingga ternak peliharaan yang menopang kehidupan manusia. Ketakutan akan dampak buruk yang disebabkan peristiwa kematian dan murka roh jahat menyebabkan masyarakat adat Manggarai Tengah menggelar ritual adat kematian.

Dipercaya, rangkaian ritual adat yang dilaksanakan saat kematian mampu menghindarkan petaka bagi sanak keluarga orang meninggal dari pengaruh roh jahat. Sebaliknya, jika ritual adat tidak dilaksanakan, kerabat mendiang, hewan peliharaan, maupun tanaman pertanian akan tertimpa petaka.

Ritual adat pun membebaskan tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi ternak peliharaan dan tanaman pertanian. Di Dusun Mangge, Desa Meler, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT, jasad seorang ayah masih terbujur kaku. Di hadapan ratusan pelayat dan keluarga yang melayati jenazah, juru bicara adat mulai melitani perihal sakit hingga meninggalnya mendiang.

Masyarakat adat setempat sedang melakukan ritual poe woja latung, salah satu rangkaian dalam ritual adat kematian di Manggarai. Kepada Media Indonesia, Hironimus Jeharun, tokoh adat Desa Meler, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Sabtu (7/5), menuturkan juru bicara adat yang dipercayakan keluarga bertugas berbicara kepada arwah orang yang meninggal. Pembicaraan dalam bahasa adat Manggarai berisi permintaan maaf dan permintaan untuk terbebas dari pengaruh roh jahat maupun penyakit.

"Selama engkau sakit, banyak kerabat berkunjung. Keluarga sudah berupaya bawa ke rumah sakit, tetapi Tuhan berkehendak lain dan kami tidak bisa berbuat apa-apa. Tolong doakan bagi anak, mama, dan keluarga besar. Berikan berkat, hindari dari segala penyakit, bawa semua penyakit dan kesialan ke alam baka, beri kesegaran jasmani dan rohani. Kalau ada anggota keluarga yang dipaksa hendak ikut ke alam baka, kiranya ditolak karena belum saatnya. 


Jauhkanlah pengaruh roh jahat yang menyebabkan sakit dan menderita, mohon mendiang menjadi pelindung keluarga yang ditinggalkan dan menghalau segala jenis penyakit. Jikalau ada bisikan atau perundingan roh jahat di depan gerbang kampung ini, tolong dihalau," ujar Hironimus Jeharun menjelaskan mantera yang diucapkan juru bicara adat keluarga dalam ritus poe woja lantung.

Petrus Ben, warga Desa Meler, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, menyatakan ritual adat saat kematian merupakan bentuk penghormatan dari orang-orang dekat dengan mendiang. Ritual dimaksudkan untuk memohon maaf atas khilaf kata maupun perbuatan kerabat dekat selama masa hidup mendiang. 

Ritual adat kematian juga sebagai bentuk keikhlasan keluarga melepaskan mendiang menuju alam baka. Seperti ritual adat lainnya, ritual adat kematian pada masyarakat Manggarai membutuhkan ayam dan babi kecil sebagai hewan kurban pilihan, hewan yang diyakini mampu meruntuhkan kemarahan arwah.

Arwah orang meninggal akan diberikan sesajian berupa potongan hati dan isi daging paha yang sudah dibakar dan dipotong kecil-kecil dan diletakkan di tanah. Darah ayam diteteskan ke dalam wadah bercampur air lalu diminum secara bergilir, simbol me rekatkan hubungan darah anakanak dan cucu yang tidak pernah padam oleh kematian sekalipun. Tata cara ataupun syair yang digunakan dalam ritual adat kematian pun berbeda-beda, bergantung pada cara kematian, usia, dan status perkawinan seseorang.

Ritual tokong bako
Ritual ini menjadi pembuka rangkaian ritual adat kematian di Manggarai. Ritual tokong bako dimaksudkan untuk meyakinkan arwah mendiang bahwa dia sedang dijaga sanak keluarga dan kerabat. Ritus itu juga dimaksudkan untuk menjaga kejernihan hati arwah mendiang agar tidak terpengaruh atau dirasuki roh jahat. J

ika kematian terjadi di pagi hari, ritual pembukaan dilaksanakan menjelang malam hari dipimpin juru bicara adat. Dalam ritus itu, ayam pun disembelih, dibakar, dikasih bagian atau sesajian untuk mendiang di dalam piring, sendok, dan gelas.

Ela haeng nai (sakratulmaut)
Ritus ini menggambarkan wujud kecintaan sanak keluarga dalam proses sakratulmaut bahwa seluruh anggota keluarga juga ada mendampingi anggota keluarga mereka di saat ajal datang menjemput. Ritus ini berupa penyerahan tanggungan berupa hewan babi oleh keluarga inti, anak rona (saudari perempuan dari mendiang) dan anak wina (menantu). Babi yang diberikan itu akan dimanfaatkan dalam rangkaian upacara liturgi keagamaan maupun adat selama tiga hari terhitung sejak mendiang dikuburkan.

Elha tekan tanah
Ritual ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terhadap jenazah dan tanah tempat mendiang akan dimakamkan. Ritual dibuat saat penggalian dimaksudkan untuk menghindari batu penghalang, lipan, dan ular keemasan. Ada syair penting dalam ritual elha tekan tanah, yakni 'neka manga batu kepe, ngongo laang, lipang lewes'. 

Jangan ada batu kepe (batu penghalang), lipang lewes (kaki seribu), dan ngongo (ular kecil berwarna keemasan). Jika sudah dibuatkan ritual tetapi masih juga menemukan hambatan, dapat dipastikan akan ada kerabat yang ikut menyusul ke liang lahad.

Poe woja latung
Ritual poe woja latung ialah ritual untuk memohon agar arwah orang yang meninggal tidak membawa serta seluruh harta yang didapat selama hidupnya atau dalam bahasa Manggarai disebut 'neka babar pale wa, neka beba pale eta'. 

Ritual ini juga untuk memohon bantuan doa dari sang mendiang untuk kerjakerja kerabatnya yang ditinggalkan. Selain mempersembahkan sesajian berupa hati ayam dan babi, kerabat orang yang meninggal pun meminum darah ayam yang dicampur ke dalam wadah berisi air.

Saung taa atau pembebasan
Ritual saung taa ialah ritus terakhir (dilakukan pada hari ketiga terhitung sejak jenazah dimakamkan). Ritual ini sebagai simbol pembebasan dari dukacita menjadi sukacita. Ritus ini sebagai simbol tidak ada lagi ratap dan tangisan. Kesedihan selama satu minggu pun berganti, saatnya kerabat mendiang bebas bekerja lagi.

Saung taa menjadi ritual terakhir dalam rangkaian ritual adat kematian masyarakat Manggarai Tengah. Ritual ini ditandai dengan mencuci kain putih atau lulung tove lepet buing. Tikar bekas membaringkan jazad pun digulung. (M-2)

Penulis: Alexander P Taum
www.mediaindonesia.com

Minggu, 15 Mei 2016

Ritual Nyamut Muai Kearifan Lokal Dayak Tae

Menjelang gelap, rombongan itu tiba di tanah Desa Tae. Mereka melangkah pelan melewati jalan tak beraspal. Agak berhati mereka berjalan, sebab kondisi jalan menurun meski tak terlalu curam. Ditambah lagi, jalanan tanah itu licin dan berisiko menggelincirkan akibat sebelumnya mendapat jatah siraman air dari langit. Agak jauh dari tempat rombongan berpisah dari kendaraan, banyak warga desa yang tengah berkumpul. Masih terlihat jelas dengan mata telanjang dengan jarak yang hanya sekitar 200 meter.

Mereka berkumpul di tengah tanah lapang. Kala itu, rombongan sedang berkunjung ke masyarakat Dayak yang bermukin di Desa Tae, Kecamatan Balai Batang Tarang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Para warga desa berkumpul di sebelah dalam gapura buatan. Tidak ada satu pun dari mereka yang berada di luar gapura. Ada semacam garis imajiner terbentuk dengan tarikan garis lurus dari gapura tersebut.

Gapura penyambutan terbuat dari dua tiang bambu dengan kayu melintang di atasnya, sedangkan pelepah kelapa digantung dengan daun berjuntai ke bawah. Seperti halnya para warga yang tak boleh keluar dari batas, para tamu pun tidak diperbolehkan melewati batas juntaian daun kelapa. Ketika rombongan semakin mendekat ke gapura, para warga pun berlaku sebaliknya. Beringsut mereka merapat ke arah gapura. Hingga pada akhirnya, rombongan dan warga berhadapan. Hanya gapura bambu jadi pemisah.


Menghormati tamu

Namun, sebelum rombongan melewati batas gapura bambu. Terlebih dahulu mereka harus melaksanakan upacara adat nyamut muai. Ritual tersebut dimaksudkan untuk menyambut dan menghormati tamu yang datang ke tanah adat Dayak Tae. Prosesi tepat dilakukan di depan gapura penyambutan. Tetua adat memulai pembacaan mantra. Lirih dan lamat terdengar.

Di tangan mereka memegang mangkuk berisi beras kuning. Sesaat kemudian, beras kuning melayang. Butirannya bertabur di atas kepala para rombongan. Belum selesai, salah seorang perwakilan rombongan diminta untuk menyembelih ayam jantan. Seorang dari warga membawa ayam jago tersebut dengan kondisi kaki terikat. Seorang lainnya menenteng sebilah pisau.

"Ini dipotong dulu," ujar salah seorang dari kumpulan warga. Seorang dari rombongan maju ke depan. Ia menerima pisau dari warga. Ia mulai momotong leher ayam tersebut. Lalu darah yang mengucur pun tak dibiarkan sampai di bumi. Sebab ditadahi dalam mangkuk yang telah disiapkan sebelumnya. Darah dalam mangkuk tersebut kemudian di-calek-kan (sentuh/oles) pada setiap tamu dengan sehelai bulu ayam. Setelah semua selesai, apakah rombongan sudah diperbolehkan melewati gapura? Ternyata belum. Sebab masih ada beberapa rangkaian ritual. Pemuka adat menarik diri ke arah samping. Giliran seorang dara maju sembari menyodorkan siakng atau sesajen. Siakng diletakkan dalam bokor kecil di atas dulang.

Ternyata, setiap peserta rombongan harus mengonsumsi salah satu yang tersaji di dalam bokor. Beberapa di antaranya ada pinang, gambir, rokok daun, sirih, dan rokok nipah. Namun, jika tidak terbiasa mengunyah sirih atau merokok nipah (daun), para tamu cukup menyentuh bokor kecil tersebut. Seusai semua prosesi, para tamu diperbolehkan melewati gapura penyambutan. Para rombongan telah diterima secara adat untuk masuk ke wilayah desa.

"Ini tanda kalian disambut secara tradisi adat di desa ini. Kita pamit pada keramat," terang pemuka adat Dayak Tae Temenggung Anuk. Tumenggung Anuk juga menerangkan tujuan dari upacara nyamut muai. Setidaknya ada tiga hal yang dimaksudkan dalam pelaksanaan upacara nyamut muai. Pertama meneguhkan tradisi yang telah ada sejak zaman leluhur. Kedua pengakuan masuk bagi orang luar. Ketiga memohon keselamatan bagi orang luar maupun orang dalam.

"Agar tidak kenapa-kenapa," tegas Anuk. Upacara nyamut muai tidak hanya dilakukan sekali. Beberapa kali rombongan mendapati upacara adat tersebut. Sebut saja sebelum masuk hutan adat Tembawang atau masuk ke kampung lain. Di situ ada nilai penghormatan tuan rumah terhadap tamu. Selain itu, upacara ini merupakan cerminan dari kearifan masyarakat Dayak Tae. Kearifan budaya untuk menjaga hubungan harmonis antara manusia dan Tuhan, manusia dan manusia, serta manusia dan alam.

Sungguh penghormatan yang luar biasa terhadap tamu. Setelah upacara adat nyamut muai, rombongan juga dijamu dengan makanan ala masyarakat lokal. "Ini ayam yang dipotong tadi," ujar seorang perempuan sembari membawa baskom berisi daging ayam yang telah dimasak. Malam harinya, salah seorang dari rombongan diminta untuk menyembelih dua ekor ayam yang bakal dimasak untuk esok hari. Sebab beberapa dari rombongan memang tidak memakan daging makhluk hidup termasuk ayam yang tidak disembelih menurut tata cara mereka.

Selain itu, jangan harap merasakan perut kosong saat berkunjung ke Desa Tae. Masyarakat setempat sangat senang jika bisa menjamu tamu dengan baik. Bahkan pemuka kampung menyatakan permohonan maaf sebab merasa belum bisa menjamu tamu dengan layak. Padahal, mereka telah merelakan buah-buahan mereka dipanen raya oleh rombongan. Sungguh keramahan dan penghormatan yang tak terkira. Jadi, tersenyumlah saat berkunjung ke Desa Tae, maka mereka akan membalas dengan senyuman yang tak kalah manis. (M-2)

Penulis: Abdillah M Marzuqi
www.mediaindonesia.com

Sabtu, 23 April 2016

Bawang Merah dan Bawang Putih

Zaman dahulu ada seorang anak bernama Bawang putih, ibunya sudah menginggal dan dia tinggal bersama seorang Ayah. Di desa itu juga tinggal tinggallah seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah. Karena kedua keluarga tersebut akrab ayah Bawang putih menikah lagi dengan ibu Bawang merah, supaya mereka tidak kesepian lagi. 

Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu kehidupan Bawang Putih sengsara, karena Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Setiap hari Bawang Putih harus mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri. 

Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwasalah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. 

Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya. 

“Dasar ceroboh!, Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?” bentak ibu tirinya. 

Bawang putih segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Mataharisudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Di lihatnya ke kanan dan ke kiri, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. 

“Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.” Kata Bawang putih. 

“Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu. 

“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri. 

Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya. “Permisi…!” kata Bawang putih. 

Seorang perempuan tua membuka pintu. “Siapa kamu nak?” tanya nenek itu. “Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih. “Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek. “Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih. “Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. 

“ Bolehkah, saya membawa nya kembali nek ?? “ tanya bawang putih. 

Nenek tersebut akan memberikannya kembali kepada Bawang Putih, asalkan Bawang Putih mau menemani Nenek tersebut selama seminggu. 

Kerena Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba. “Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum. 

Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. 

Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih. Aku senang karena kau anak yang berbakti dan rajin. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek. 

Karena di paksa Sang nenek maka Bawang putih memilih labu yang kecil, sambil berkata “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,”. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah. 

Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. 

Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsung merebut emas dan permata tersebut. 

Bawang merah memaksa untuk memberi tahu dari mana asal emas tersebut. Bawang putih pun menceritakan nya. 

Mendengar cerita bawang putih, bawang merah berencana untuk melakukan hal yang sama. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. 

Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. 

Setelah seminggu akhirnya bawang merah meminta labu kuning seperti bawang putih. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi. 

Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.

Sumber : CeritaRakyatcom

Sabtu, 16 April 2016

Sangkuriang

Cerita ini berawal di sebuah daerah di Jawa Barat, ada seorang Putri bernama Dayang Sumbi, dia mempunyai seorang anak laki – laki bernama Sangkuriang. Kebiasaan Sangkuriang adalah berburu di dalam hutan.Tidak seperti pangeran biasanya yang selalu di iringi para pasukan, tetapi setiap berburu, dia selalu ditemani oleh seekor anjing kesayangannya yang bernama Tumang. 

Tumang sebenarnya adalah titisan dewa, dan juga bapak kandung Sangkuriang. Entah karena sebab apa, Dayang Sumbi tidak memberi tahu Sangkuriang tentang hal tersebut. Pada suatu hari, seperti biasanya Sangkuriang pergi ke hutan untuk berburu. Sambil berjalan berlahan-lahan, Sangkuriang mulai mencari buruan di lihatnya ke kanan dan ke kiri. Dia melihat ada seekor burung yang diam di pohon, lalu tanpa berpikir panjang Sangkuriang langsung menembaknya, dan tepat mengenai sasaran. 

Sangkuriang lalu menyuruh Tumang untuk mengambil burung buruan tersebut, tetapi Si Tumang tidak mau mengikuti perintah Sangkuriang dan diam saja. Sangkuriang menjadi sangat marah pada Tumang, di tendangnya dan di pukulnya Si Tumang lalu di tinggalkannya di dalam hutan. 

Sesampainya di rumah, Dayang Sumbi bertanya keberadaan Tumang, Sangkuriang menceritakan kejadian tersebut kepada ibunya. Ketika mendengar tersebut, Dayang Sumbi menjadi sangat marah. Dipukul ke kepala Sangkuriang dengan menggunakan sendok nasi, hingga meninggalkan bekas luka di dahi kepalanya. 

Karena merasa kecewa dengan perlakuan ibunya, maka Sangkuriang memutuskan untuk pergi mengembara, dan meninggalkan rumahnya. 

Setelah amarah Dayang Sumbi reda, dan diketahui bahwa anaknya Sangkuriang telah pergi meninggalkannya, sangat sedih hati Dayang Sumbi. Ia berdoa setiap hari, dan meminta agar suatu hari dapat bertemu dengan anaknya kembali. 

Karena doa Dayang Sumbi yang sungguh – sungguh setiap hari, maka Dewa mendengarkan doa tersebut dan memberinya sebuah hadiah berupa kecantikan abadi. 

Setelah beberapa tahun waktu berlalu. Akhirnya Sangkuriang kembali pulang ke kampung halamannya. Sesampainya di sana, dia sangat takjub kerena kampung halamannya menjadi kampung yang lebih bagus. 

Setelah beberapa hari tinggal di sana, Sangkuriang di tengah jalan bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik jelita, yang tidak lain adalah Dayang Sumbi. Karena terpesona dengan kecantikan wanita tersebut, maka Sangkuriang langsung melamarnya. 

Lamaran Sangkuriang diterima oleh Dayang Sumbi, dan sepakat akan menikah di waktu dekat. Pada suatu pagi, ketika Sangkuriang hendak pergi berburu ke hutan. Sangkuriang meminta tolong calon istri nya Dayang Sumbi untuk memakaikan ikat kapalanya. Ketika merapikan rambut Sangkuriang, terkejutlah Dayang Sumbi, karena ia melihat ada bekas luka yang ada di kepala Sangkuriang. Bekas luka tersebut mirip dengan bekas luka anaknya. 

Setelah bertanya kepada Sangkuriang tentang penyebab lukanya itu, Dayang Sumbi bertambah tekejut, karena ternyata benar bahwa calon suaminya tersebut adalah anaknya sendiri. 

Mengetahui hal tersebut Dayang Sumbi sangat bingung sekali, karena dia tidak mungkin menikah dengan anaknya sendiri. Setelah Sangkuriang pulang berburu, Dayang Sumbi meminta sangkuriang untuk membatalkan rencana pernikahan mereka. Permintaan Dayang Sumbi tersebut tidak ditolak Sangkuriang, karena alasan Dayang Sumbi yang tidak jelas. 

Setiap hari Dayang Sumbi berpikir bagaimana cara agar pernikahan mereka tidak pernah terjadi. Setelah beberapa hari berpikir keras, akhirnya Dayang Sumbi menemukan ide terbaik. Dia mengajukan dua buah syarat yang tidak mungkin bisa di penuhi Sangkuriang. 

Dayang sumbi mengatakan dua buah syarat kepada Sangkuriang. Sebelum Dayang Sumbi dijadikan istri oleh Sangkuriang, dia harus dapat menyelesaikan syarat untuk sebagai hadiah perkawinan mereka, Jika tidak bisa maka Dayang Sumbi tidak mau menjadi istrinya. 

Syarat yang pertama Dayang Sumbi meminta Sangkuriang untuk membuat sampan yang sangat besar untuk menyeberang sungai, dan yang kedua adalah ingin supaya sungai Citarum dibendung. Kedua syarat itu harus diselesai sebelum fajar menyingsing. 

Sangkuriang menyanggupi kedua permintaan Dayang Sumbi tersebut, dan berjanji akan menyelesaikannya sebelum fajar menyingsing. Karena Sangkuriang adalah anak dari tumang yaitu jelmaan dewa, maka ia mempunyai kesaktian, dengan kesaktian itu ia mengerahkan teman-temannya dari bangsa jin untuk membantu menyelesaikan tugasnya tersebut. 

Diam-diam, Dayang Sumbi mengintip hasil kerja dari Sangkuriang. Betapa terkejutnya dia, karena Sangkuriang hampir menyelesaiklan semua syarat yang diberikan Dayang Sumbi sebelum fajar. 

Dayang Sumbi mencari akal, ia meminta bantuan penduduk desa untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota dan memukul-mukul lesung seperti orang yang sedang menumbuk padi sehingga membuat ayam-ayam berkokok mengira hari mulai pagi. 

Sangkuriang langsung menghentikan pekerjaannya dan merasa tidak dapat memenuhi syarat yang telah diajukan oleh Dayang Sumbi. Ia mengetahui kalau itu semua adalah perbuatan Dayang Sumbi. 

Dengan rasa jengkel dan kecewa, Sangkuriang lalu menjebol bendungan yang telah dibuatnya sendiri. Karena bendungan itu, maka seluruh kota terendam air dan menjadi seperti danau. Sampan yang telah dibuatnya ditendang sekuat tenaga. Sampan itu melayang dan jatuh tertelungkup, lalu menjadi sebuah gunung yang bernama Tangkuban Perahu.

Sumber : ceritarakyatcom