Dayang Ayu - Dideng Dang Ayu

Legenda Daerah Sumatra Barat

Lutung Kasarung dan Purbasari

Legenda Daerah Jawa Barat

Sangkuriang

Legenda Daerah Jawa Barat

Bawang Merah dan Bawang Putih

Legenda Rakyat Jawa Barat

Tarian Klasik Keraton Jawa

Legenda Daerah Jawa Tengah

Minggu, 10 Juli 2016

Mengenal Filosofi Batik Rifa’iyah

Sepintas, tidak tampak ada perbedaan dengan Batik Rifa’iyah. Kain itu mirip dengan batik pesisir lain yang berasal dari Pekalongan, Brebes, Tegal, dan Indramayu.

Beberapa motif, pola, dan warna bahkan punya kemiripan dengan batik pesisir yang banyak di penga­ruhi kebudayaan dari luar, misalnya Tiongkok, Belanda, dan Arab.

Namun, jika diperhatikan lebih lanjut, ada yang unik dengan batik Rifa’iyah. Motif yang berhubung­an dengan benda bernyawa tidak digambarkan sesuai persis sama aslinya. Misalnya, dengan hanya menggambarkan sayapnya atau membuat guratan di lehernya sehingga mengesankan gambar hewan yang sudah disembelih.

Bukan rahasia lagi, bahwa satu dari sekian budaya warisan Indonesia yang sudah diakui UNESCO ialah batik. Seni membatik punya peran penting dalam sejarah kebudayaan Indonesia. Karena itu, seni ini merupakan identitas sekaligus penguat karakter bangsa.

Lebih dari itu, batik ternyata juga menjadi media dakwah bagi para ulama di Indonesia. Perkembangan batik yang banyak terjadi di daerah santri membuat pengaruh Islam turut mewarnai perkembangan batik. Tak mengherankan jika batik merupakan media perjuangan sekaligus menjadi media dakwah.

Batik Rifa’iyah, begitu kain itu disebut, ialah salah satu motif yang menjadi kekhasan dari komunitas Rifa’iyah di Batang, Jawa Tengah. Sebutan Rifa’iyah diambil dari seorang tokoh agama bernama KH Ahmad Rifai. Sebagaimana disarikan dari buku Rembug Batik karya Budi Mulyawan dkk.

Ahmad Rifai berdakwah sekitar 1835 dan menulis buku sebanyak 67 judul dalam jangka 21 tahun. Ada yang 1 judul memuat 4 buku lebih. Dari jumlah tersebut, baru 64 yang ditemukan, sedangkan sekitar tiga karangannya tersisa di Amsterdam.

Ahmad Rifai dikabarkan dari Yogyakarta. Dahulu ia lahir di Kendal. Bapaknya bernama Maroko. Ia juga sempat diasingkan dari Kaliwungu Kendal ke Kalisalak-Batang. Konon, beliau satu zaman dengan KH Muhammad Cholil Bangkalan (Mbah Cholil) yang juga pernah menjadi buruh membatik di Kebon Candi, Pasuruan, dan sezaman pula dengan Syekh Nawawi Bantan (Banten).

Ahmad Rifai banyak melakukan penerjemahan bahasa Arab ke Jawa agar menyesuaikan budaya lokal, termasuk melakukan semacam distorsi motif pada batik. Gambar hewan diubah agar tidak terlihat seperti makhluk hidup. Prinsip ini meluas hampir di semua batik pantura.

Ajarannya kemudian melahirkan komunitas Rifaiyyah di Kalisalak, Batang. Rifa’iyah ialah lembaga atau ormas yang ada sekitar 1876. Komunitas Rifa’iyah membuat batik dengan konsep tiga negeri yang sebenarnya bermakna tiga hal, yakni tauhid, tasawwuf,dan ushulfiqih.

Itulah mengapa bagi komunitas Rifa’iyah, membatik merupakan pengamalan syariah dan dakwah. Bagaimana membentuk komunitas dakwah. Begitu yang ditulis dalam buku Rembug Batik.

Batik Rifa’iyah mendapat pe­ngaruh kuat Islam, yang ditampilkan dalam motif dan coraknya. Meski demikian, Batik Rifa’iyah mempunyai nilai karya seni yang luar biasa. Batik Rifa’iyah dibuat dalam bentuk kain panjang, sarung, maupun selendang yang difungsikan sebagai penutup aurat.

Kepala terpenggal

Ahmad Rifai mengajarkan bahwa menggambar hewan (sebagaimana batik Belanda) termasuk perbuatan mungkar. Ada sekitar 17 motif yang orisinal dari Rifaiyyah pada sekitar 1958—1959. Namun, yang dominan dipakai hanya ada empat motif. Salah satunya ialah motif pelo ati.

Secara umum, ragam hias pelo ati menggambarkan dua motif ayam dengan kepala terpenggal. Pada bagian tubuhnya menunjukkan ragam hias menyerupai bentuk hati, dan pada motif ayam lainnya terdapat pelo. Pelo Ati digambarkan dengan motif-motif bunga dan dedaunan. Ragam hias pelo ati memiliki pemaknaan dakwah terhadap ajaran Ahmad Rifai mengenai ilmu tasawuf.

Pada ragam hias batik pelo ati juga terdapat gambar ampela burung yang digambarkan berada di luar tubuh burung. Ampela ialah tempatnya kotoran dan harus dibuang. Ambaran ampela mengibaratkan sifat-sifat buruk manusia yang harus dibuang.

Bagi komunitas rifa’iyah, membatik bukanlah kegiatan yang asing. Mereka telah melakoni aktivitas membatik sejak kecil, terutama bagi kaum wanita. Sewaktu mereka beranjak dewasa atau saat menunggu dipinang, para wanita ini membuat batik yang paling bagus dari sekian karya batik yang mereka pernah buat. Hasilnya, akan dikenakan bersama dengan mempelai pria pada acara pernikahan.

Selain karya seni, batik Rifa’iyah ialah salah satu bukti dari perjuang­an dan perlawanan terhadap kolonialisme.

Dalam buku Rembug Batik karya Budi Mulyawan, dkk, diungkap bahwa KH Ahmad Rifai mengharamkan batik Belanda pada saat itu. Ahmad Rifai menolak batik Belanda sebab menganggap penjajahan Belanda bukan cuma luar ataupun busana, melainkan juga sampai wilayah dalam atau keimanan. Sampai kemudian beliau diasingkan karena berbahaya untuk para penjajah.

Beliau sangat keras mewanti-wanti agar orang-orang tidak menjadi antek-antek Belanda. Dalam kitabnya, beliau mengatakan, luwih becik nandur telo tinimbong melu wong olo (lebih baik menanam ketela (mandiri) daripada menghamba pada orang yang buruk. (M-2)

Penulis: Abdillah M Marzuqi
www.mediaindonesia.com

Minggu, 03 Juli 2016

Mengenal Pesta Adat Uman Undrat

Pagi itu, jalanan masih agak basah. Sepanjang jalan yang telah diperkeras dengan batako ataupun beton masih didapati kubangan air. Terlebih bahu jalan yang tidak diperkeras, becek. Rupanya hujan semalam masih menyisakan sedikit kuasa basahnya. Tidak seperti biasa. Hari itu (21/5), banyak orang terlihat lebih sibuk. Mereka berlalu lalang di jalanan desa. Beberapa di antara mereka tidak mengenakan busana sehari-hari, tetapi mengenakan pakaian adat. 

Terlihat beberapa laki-laki mengenakan sapei sapaq, lengkap dengan mandau, sedangkan para wanita memakai ta’a. Banyak juga warga yang berkumpul di muka bangunan kayu persegi panjang, tepat di sekitaran papan yang bertulis Lamin Adat Dayak Kenyah Desa Budaya Lung Anai Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, provinsi Kalimantan Timur. 

Dinding bagian luar lamin adat dibalur rupa garis yang memanjang dari ujung ke ujung, sedangkan bagian dalam ruang juga menampak gambaran yang sama. Banyak garis lengkung menjulur dan menyambung satu sama lain seperti tali yang menyatukan dan menjalin tiap bagian. Rupanya bagian dalam bangunan itu cukup luas, sekitar 12 x 25 meter. Cukup untuk menampung seratusan kursi yang ditata agak berdekatan. Bagian tengah ruangan itu dibiarkan kosong.

Mereka bukan berkumpul untuk sekadar nongkrong, melainkan hendak merayakan Uman Undrat (pesta panen). Pesta adat panen raya suku Kenyah itu dilakukan setiap tahun setelah lepa atau (sesudah panen padi) pada Mei atau Juni. Tujuannya, sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Kenyah kepada Tuhan atas berkat dan rahmat yang diberikan berupa hasil panen padi. 

Pesta adat itu diawali dengan penyembelihan babi. Babi terbaik yang diperoleh dari pemburuan beberapa hari sebelumnya dikorbankan sebagai wujud syukur atas hasil panen yang melimpah. Babi diangkat dan kepalanya dipancakkan pada dua galah bersilang. Kepala Adat Lung Anai Ismail Lahang kemudian menyembelih babi tersebut sambil membaca doa-doa. Dahulu, darah babi tersebut kemudian dipercikkan ke tanah. Darah babi dipersembahkan kepada para Bali (roh) yang dipercaya masyarakat Kenyah sudah berjasa memberikan perlin­dungan dan tanah yang subur bagi mereka untuk berladang.

Pemotongan babi sekaligus menandai dimulainya acara. Setelah prosesi potong babi, sebagian orang yang hadir beralih ke dalam lamin adat. Sebagian lagi menggotong lesung ke dalam lamin. Beramai mereka mengangkat lesung panjang dari kayu bulat utuh. Prosesi ini ialah simbol kebersamaan dan kegotongroyongan. 

Puncak acara dari panen raya ini ialah prosesi Mecaq Undat. Mecaq Undat mengandung arti menumbuk dengan alu supaya beras menjadi halus. Setelah diletakkan di tengah ruang lamin, lesung kemudian diisi beras. Para wanita bersiap memukul lesung. Selang beberapa lama, semua yang hadir pun dipersilakan berturut dalam Mecaq Undrat.

Meko Undat
Setelah beras tadi di tumbuk, selanjutnya ialah Meko Undat. Proses ini dimaksudkan untuk mengayak beras dan memisahkan beras halus dan beras kasar. Betapa pun tumbukan beras, tetap saja akan ada beras yang luput dari tumbukan. Proses mengayak menggunakan alat ayakan tradisional suku Dayak yang terbuat dari bahan bamboudan rotan. Mengayak atau ngulek dalam bahasa Kenyah ialah hal sakral. Tidak bisa dilakukan sembarangan sebab hanya boleh dilakukan para wanita yang dituakan. 

Prosesi selanjutnya ialah memasukkan tepung dalam wadah yang terbuat dari ruas bambu muda berdiameter sekitar 3 cm. Bambu itu telah dipotong bagian atasnya untuk jalan masuk tepung. Bambu berisi tepung ini dinamakan Undrat. Di luar lamin, telah tersedia kayu bakal arang. Disamping tumpukan arang, terdapat dua bambu memanjang yang ditopang kedua ujungnya. Lalu, bambu-bambu yang sudah berisi adonan tepung ditata dalam dua baris.

Proses bakar ini dinamakan pesak undrat. Selama dibakar, Undrat dibolak-balik agar matang rata. Pesak undrat atau memasak undrat dilakukan para kaum adam/lelaki. Di tempat masak undrat tersedia tempayan panjang agar warga memiliki kebersamaan dan kegotongroyongan. “Kami dari nenek moyang sudah gotong royong. Karena sudah mendarah daging gotong royong,” terang Kepala Adat Desa Lung Anai Ismail Lahang. 

Setelah matang, undrat dibawa masuk lagi ke lamin. Proses berikutnya ialah Undrat Au. Prosesi ini dilakukan dengan mengikis peralatan dapur. Hasil kikisan tersebut lalu ditempatkan pada peristirahatan leluhur beserta undrat. Tujuan prosesi ini ialah agar para arwah juga turut menikmati hasil panen bersama keluarga dan masyarakat. Setelah prosesi itu, tibalah bagian akhir acara. 

Potongan bambu berisi tepung beras yang sudah masak dimakan bersama-sama. Undarat mempunyai rasa yang khas, yakni gurih, manis, dan harum daun nangka. Mirip seperti rasa kue putu, hanya lebih harum. Semua warga dan tamu-tamu yang ada makan undrat bersama-sama, dengan hati yang gembira, penuh syukur bahwa terbukti hasil pekerjaan warga berhasil dan dapat dinikmati. Itulah Uman Undrat.(M-2)

Penulis : Abdillah M. Marzuqi
www.mediaindonesia.com

Minggu, 19 Juni 2016

Tarian Klasik Keraton Jawa

Bedhaya Minangkalbu berbincang tentang kisah anak manusia dalam mengarungi hidup. Proses dilewati untuk menemukan kesejatian hidup.

Sembilan penari memasuki altar tari. Berlemah gemulai mereka berjalan berurutan. Tiba di tengah ruang, mereka sejenak merendahkan tubuh sampai posisi pinggul hampir sejengkal dari lantai.

Mereka tidak berbeda dalam busana, rias, maupun tata rambut. Para penari mengenakan dodot atau basahan. Penari juga menggunakan gelung rambut dan berbagai aksesori perhiasan, mirip seperti busana pengantin adat Jawa.

Iringan gamelan lembut mengalun. Bunyian itu serasa membimbing masuk dalam alam syahdu. Meski penuh bunyian, suasana yang terasa justru keheningan. Tidak ada suara mengentak sadar. Semua mengalir lembut. Berpadu gerak dengan gamelan pengiring. Bersama, mereka menari dengan halus dan tentram.

Sesaat kemudian mereka menundukkan badan sembari mengambil ancang-ancang untuk menyatukan telapak tangan tepat. Mereka menghormat kepada semua yang hadir. Bukan bermaksud menyembah sebab itu hanya sebagai penghormatan. Saat mereka menghormat, ke-10 jemari mengarah ke atas. Itu simbol pernyataan sembah kepada Sang Pencipta.

Penari membawakan peran dengan nama yang berbeda-beda, yaitu Batak, Gulu, Dhadha, Endhel Weton, Endhel Ajeg, Apit Meneng, Apit Wingking, Apit Ngajeng, dan Buncit. Kesemuanya menyimbolkan unsur yang terdapat dalam diri manusia. Batak sebagai simbol pikiran dan jiwa. Endhel Ajeg sebagai keinginan hati atau nafsu, sedangkan yang lain merujuk pada anggota tubuh.

Mereka menarikan tari Bedhaya Minangkalbu, sebutan berasal dari bahasa Sansekerta, yakni bedhaya. Kata itu punya arti menari berjajar bersama. Itulah sebabnya mereka berjumlah sembilan orang. Kesemuanya wanita.

Bedhaya ialah bentuk tarian klasik Jawa yang dikembangkan di kalangan keraton-keraton pewaris takhta Mataram. Bedaya ditarikan secara gemulai dalam tempo yang lambat, tentu dengan iringan gamelan, meski terkadang hanya beberapa alat dari gamelan yang dibunyikan saat gerak tertentu. Tarian Bedhaya sering kali merupakan hasil inspirasi raja mengenai suatu peristiwa tertentu.

Bedhaya merupakan tarian klasik Jawa dengan sembilan penari meski terdapat beberapa Bedhaya dengan tujuh penari yang dikembangkan di kalangan keraton pewaris takhta sejak zaman Kerajaan Mataram. Dalam mitologi Jawa, sembilan penari, menurut Eny Sulistyowati, menggambarkan sembilan arah mata angin yang dikuasai sembilan dewa (Nawasanga). Atau versi lain menyebut sebagai lambang Sembilan Wali atau Wali Songo.

Disakralkan

Memang terdapat beberapa tarian Bedhaya yang disakralkan dan dikeramatkan. Bahkan beberapa Bedhaya mensyaratkan penari masih perawan, tidak sedang dalam masa menstruasi, dan didahului semacam puasa sebagai bagian prasyarat. Tarian Bedhaya jenis ini hanya ditarikan dalam saat tertentu, tidak diperkenankan ditarikan dalam setiap momen.

"Bedhaya memang ada beberapa yang tidak boleh dipertunjukkan di luar keraton," terang pencipta Bedhaya Minangkalbu, Eny Sulistyowati. Seperti Bedhaya Ketawang yang ditarikan saat perayaan jumenengan dalem (pelantikan) Sunan Surakarta. Tarian ini menceritakan pertemuan Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul serta perjanjian keduanya untuk saling menjaga kedua kerajaan.

Ada pula Bedhaya Anglirmendung untuk mengenang pertempuran yang dipimpin Sri Mangkunegara I melawan pasukan gabungan Surakarta dan VOC di Ponorogo pada 1752.

Sesuai dengan khas Bedhaya yang punya cerita tentang sesuatu, Bedhaya Minangkalbu berbincang tentang kisah anak manusia dalam mengarungi hidup. Proses dilewati untuk menemukan kesejatian hidup. Bedhaya Minangkalbu bicara tentang kesejatian diri. Sebuah upaya untuk menemukan inti kebahagiaan yang tidak berhijab. Meraih hati di dalam hati. Sebuah keikhlasan tanpa batas. Sebuah rasa tanpa rasa. "Jadi semua rasa yang disebut bahagia dan senang sebenarnya tidak ada rasanya untuk orang yang ikhlas. Apalagi derita ataupun sedih," terang Eny.

Minangkalbu diambil dari sebuah lakon pewayangan Dewa Ruci. Lakon tersebut berkisah tentang Bima saat mencari ilmu kesempurnaan tentang makna kesejatian hidup. Minangkalbu ialah dasar samudra yang menjadi tempat Bima bertemu Dewa Ruci. Minangkalbu sekaligus menjadi tempat Bima menemukan kedamaian dan kebahagiaan.

"Jadi Minangkalbu sebenarnya inti pusaran samudra," sambung Eny.

Minangkalbu diambil dari kisah yang dialami Eny sebagai pencipta tarian. Ia berkaca pada proses kehidupan yang dialaminya. Seketika berada di puncak kejayaan, beberapa saat kemudian terpuruk dalam kenestapaan. Saat menemui banyak hambatan dan ringtangan, justru saat itulah ia menemukan kekuatan, semata-mata karena keikhlasan dan kepasrahan kepada Sang Pencipta.

"Di dalam kejatuhanku, aku temukan kekuatanku," tegas Eny. Minangkalbu juga menyoroti tentang mikrokosmos dan makrokosmos. Hubungan timbal balik antara manusia dan jagad (alam). Juga sumber inti meridian organ tubuh manusia yang terhubung dalam konstruksi kejiwaan manusia, 'nawa yatmaka' (babahan hawa sembilan).

"Sehingga Bedhaya merupakan perwujudan dari patrap manembah. Banyak nilai diungkapkan, seperti pencarian kesempurnaan hidup, penemuan jati diri, keserasian, keselarasan, keseimbangan hidup, cinta damai, tentang kewicaksanaan dan laku utama," papar Eny seraya menyebut tarian karyanya ialah sekaligus wujud bakti pada ibunya.

Proses 'ngrepto' (menciptakan) tarian ini juga tidak sebentar. Tarian Minangkalbu butuh waktu sekitar setahun untuk dikontemplasikan. Belum lagi proses penerjemahan dari konsep tari ke bentuk tari.

Gerak tarian yang lembut dan mengalun bukan diperoleh dari hasil hitungan yang disepakati para penari. Ketika mereka tengah menari, justru yang paling berperan ialah rasa gerak. Jelang pementasan pun masih ada beberapa ritual yang harus dijalani. Dari mulai prosesi pemberkatan di Kasunanan Surakarta sampai prosesi sengkeran (pingitan) para penari.

Biasanya, sehari sebelum pementasan, para penari menyatukan seluruh energi positif sekaligus menolak energi negatif. Mereka bersama berdoa dan membersihkan diri lahir batin, sekaligus menyatukan rasa untuk membangun sinergi harmoni, guna mempersembahkan tarian tentang 'rasa tanpa rasa' dan 'zikir lewat gerak'. (M-2)

Penulis: Abdillah M Marzuqi
www.mediaindonesia.com

Minggu, 12 Juni 2016

Adat Menyambut Tamu Terhormat di Suku Kamoro

Riuh suara pukulan tifa dan teriakan suara suku Kamoro asal Papua terdengar di halaman Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH), Universitas Gadjah Mada. Keriuhan itu menandakan tamu kehormatan telah tiba di tempat acara. Tampak 4 orang dari suku Kamoro menari menyambut tamu dan 2 lainnya memukul tifa. Dari 4 orang yang menari, 1 dari mereka berada di depan tamu. Sambil tetap menari, ia mengarahkan tamu terhormat dengan tongkat komando menuju
tempat acara.

“Kami menyebutnya Taware, tarian untuk menyambut tamu yang kami hormati. Di tempat kami, upacara ini diikuti hingga ribuan orang dari suku Kamoro, sangat meriah, ” kata Herman Kiripi, salah seorang dari suku Kamoro, 2 Juni. Di PKKH, tarian tersebut hanya dilakukan sekitar tujuh orang sebagai bagian memperlihatkan kekayaan seni dan budaya Papua di acara Papuan Days yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Papua Gadjah Mada (Kempgama), pada 2 dan 3 Juni.

Dengan ramah, ia dan anggota suku Kamoro yang lain menceritakan tarian penyambutan tamu tersebut. Menurut dia, tarian dan suara yang dipertunjukkan menggambarkan kegembiraan dan penghormatan atas kehadiran sang tamu. 


Dengan menggunakan pakaian adat, mereka kemudian mengarak tamu terhormat hingga tempat tujuan. Pakaian adat yang mereka kenakan ialah tauri, rok rumbai-rumbai yang terbuat dari janur sagu, dan upauta, ikat kepala yang dihiasi bulu burung kasuari atau bulu burung cenderawasih.

Untuk perempuan, mereka menggunakan paita, penutup dada yang terbuat dari pohon waru. Selain itu, mereka juga menggambari tubuh mereka dengan cat warna putih dengan berbagai motif yang diperbolehkan untuk marganya, dari motif nsang ikan, jari kepiting, hingga kulit buaya. “Gambar di tubuh ini sudah menjadi adat turun-temurun di suku kami,” kata dia. 


Setelah pada siang hari tamu terhormat disambut dengan tarian Taware, pada malam harinya, suku Kamoro akan menggelar upacara Tifa Duduk. Acara Tifa Duduk dimulai setelah matahari tenggelam hingga fajar menyingsing. “Kami akan berpesta, makan-makan, dan menari hingga pagi,” kata dia.

Makanan yang disajikan ialah aneka ragam hasil bumi yang ada di lingkungan mereka, dari sagu, ikan, kepiting, ulat sagu, hingga tambelo (serangga di pohon sagu). Acara dimulai dengan menancapkan batang janur kelapa atau janur sagu di tempat pesta. Selain makan-makan, minum-minum, dan menari, di pesta tersebut ada yang bertugas mencabuti daun janur atau sagu dari batangnya satu per satu, kemudian membakarnya sebagai penanda waktu. 


Sebisa mungkin seluruh janur itu bisa habis tepat saat fajar menyingsing. “Yang menancapkan batang janur, membakar daun janur, dan yang mencabut batang janur dikerjakan marga-marga tertentu,” kata dia. Pesta Tifa Duduk berakhir dengan dicabutnya batang janur atau sagu. Setelah itu, pada pagi harinya, seluruh anggota suku Kamoro akan berkegiatan seperti biasa.

Suku Kamoro

Suku Kamoro hanyalah 1 dari sekitar 250 suku yang ada di Pulau Papua (berdasar jumlah bahasa yang dipublikasikan Summer Institute of Language). Istilah Kamoro muncul dari seorang misionaris Belanda. Menurut Octavianus Etapoka, salah seorang suku Kamoro yang juga pengelola Yayasan Baramowe Weyaiku Kamorowe, Kamoro dalam bahasa keseharian berarti ‘kita semua orang’. Istilah suku Kamoro terbilang baru karena dalam banyak publikasi sebelumnya mereka termasuk orang Mumuika pesisir.

Mereka hidup di area seluas 250 km pesisir Selatan, antara Teluk Etna di sisi barat dan Sungai Minajerwi di bagian timur. Populasi mereka lebih dari 18 ribu jiwa dan tersebar di 40 desa. Mereka berbicara dengan bahasa Kamoro, yang memiliki enam dialek. 

Suku Kamoro memiliki kehidupan tradisi seminomaden dan tidak bisa dipisahkan dengan 3 S, yaitu sagu, sungai, dan sampan. Dari kehidupan itu, berbagai seni pun terlahir, seperti seni ukir dan gambar di tubuh. Motif ukiran dan gambar yang mereka hasilkan tidak lepas dari yang mereka temui sehari-hari, seperti insang ikan, jari kepiting, dan kulit buaya.

Dalam mengukir, kata dia, mereka tidak bisa seenaknya membuat ukiran. Tiap-tiap marga memiliki motif masing-masing yang tidak boleh dikerjakan marga lain. Selain itu, hanya keturunan laki-laki yang boleh mengukir. Adat kebiasaan di suku Kamoro dilakukan secara turun-temurun. “Kami masih tetap melestarikan adat kebiasaan kami hingga sekarang,” kata dia. Menurut dia, seni budaya Papua sangat kaya. 

Suku Kamoro hanyalah salah satunya. Untuk memperkenalkan seni-budaya suku Kamoro kepada masyarakat yang lebih luas, sering kali ia pergi keluar Papua untuk menggelar pentas seni dan pameran seni budaya suku Kamoro, termasuk di UGM dalam Papua Days.

Suku Kamoro merupakan salah satu suku yang berada dekat dengan daerah kerja PT Freeport Indonesia. Vice President Corporate Communication PT Freeport Indonesia, Riza Pratama, mengungkapkan, pihaknya mendukung berbagai hal terkait dengan pelestarian seni budaya yang ada di Papua, termasuk suku Kamoro. 

Suku Kamoro sengaja diajak ke Yogya untuk memperkenalkan seni dan budaya mereka secara lebih dekat ke masyarakat Yogya dan sekitarnya serta pelajar dan mahasiswa yang ada. Menurutnya, Papua merupakan daerah yang memiliki ragam budaya yang kaya dan unik. “Komitmen tinggi dari kami dalam mendukung seni dan budaya Papua agar lebih dikenal secara luas,” pungkas dia. Suku Kamoro hanyalah satu dari sekian banyak khazanah seni dan budaya Indonesia yang ada dan terus dilestarikan. (M-2)


Penulis: Ardi Teristi Hardi
www.mediaindonesia.com